Leg day atau hari latihan kaki sering disebut sebagai “hari terberat” dalam program gym. Squat, leg press, deadlift, hingga lunges dikenal menguras tenaga dan membuat tubuh bekerja maksimal. Di balik rasa lelah itu, muncul satu keyakinan populer di dunia fitness: leg day bisa meningkatkan hormon testosteron secara signifikan.
Keyakinan ini begitu sering diulang, hingga banyak orang menganggapnya sebagai fakta mutlak. Bahkan, ada yang beranggapan bahwa rutin leg day bisa “mengerek” testosteron dan berdampak langsung pada pertumbuhan otot seluruh tubuh, termasuk otot bagian atas.
Namun, apakah klaim ini benar secara ilmiah? Ataukah hanya mitos yang terdengar logis, tetapi kurang didukung data? Mari kita bahas secara menyeluruh.
Mengenal Peran Testosteron dalam Tubuh
Testosteron adalah hormon androgen utama pada pria, meskipun wanita juga memilikinya dalam jumlah lebih kecil. Hormon ini berperan penting dalam:
- Pertumbuhan dan pemeliharaan massa otot
- Kekuatan tulang
- Produksi sel darah merah
- Regulasi mood dan energi
- Libido dan fungsi reproduksi
Dalam konteks olahraga, testosteron sering dikaitkan dengan kemampuan tubuh membangun otot (anabolik). Karena itu, apa pun yang diasosiasikan dengan peningkatan testosteron kerap dianggap “jalan pintas” menuju tubuh yang lebih kuat dan berotot.
Dari Mana Muncul Mitos Leg Day dan Testosteron?
Mitos ini berakar dari satu fakta dasar: otot kaki adalah kelompok otot terbesar di tubuh manusia. Latihan kaki seperti squat dan deadlift melibatkan banyak sendi dan otot sekaligus (compound movement).
Logikanya sederhana:
Semakin besar otot yang dilatih → semakin besar stres latihan → semakin besar respons hormonal.
Dari sini muncul anggapan bahwa leg day otomatis memicu lonjakan testosteron yang besar dan berdampak ke seluruh tubuh.
Apa Kata Ilmu Pengetahuan?
Secara ilmiah, latihan beban memang dapat meningkatkan testosteron, tetapi peningkatannya bersifat:
- Sementara (akut)
- Relatif kecil
- Tidak eksklusif pada leg day saja
Penelitian menunjukkan bahwa latihan beban intensitas tinggi—baik itu latihan kaki, dada, maupun punggung—dapat menyebabkan lonjakan testosteron jangka pendek, biasanya berlangsung 15–60 menit setelah latihan.
Namun, lonjakan ini tidak cukup besar atau lama untuk meningkatkan kadar testosteron basal (harian) secara permanen.
Artinya:
- Leg day bisa memicu kenaikan testosteron sementara
- Tetapi tidak secara signifikan mengubah level testosteron jangka panjang
Hormon Apa yang Justru Dominan Saat Leg Day?
Saat leg day, tubuh Anda tidak hanya memproduksi testosteron. Justru ada beberapa hormon lain yang perannya lebih besar dalam adaptasi latihan.
1. Growth Hormone (GH)
Latihan kaki, terutama dengan volume tinggi dan repetisi menengah, sangat efektif meningkatkan growth hormone. GH berperan penting dalam:
- Perbaikan jaringan otot
- Pembakaran lemak
- Pemulihan tubuh
Dalam banyak studi, peningkatan GH akibat latihan kaki bahkan lebih konsisten dibanding testosteron.
2. IGF-1 (Insulin-like Growth Factor-1)
GH yang meningkat akan merangsang produksi IGF-1. Hormon ini sangat berperan dalam:
- Sintesis protein
- Pertumbuhan dan adaptasi otot
Bagi pertumbuhan otot, IGF-1 sering kali lebih relevan daripada lonjakan testosteron sesaat.
3. Kortisol
Latihan kaki yang berat juga meningkatkan kortisol, hormon stres. Ini bukan hal buruk selama:
- Dosis latihan sesuai
- Nutrisi dan istirahat cukup
Kortisol biasanya kembali normal setelah latihan dan tidak menghambat pertumbuhan otot jika manajemen latihan baik.
Apakah Leg Day Lebih “Hormon Friendly” Dibanding Latihan Lain?
Jawabannya: tidak secara eksklusif.
Latihan compound apa pun—bench press, pull-up, row, deadlift—dapat memicu respons hormonal serupa jika:
- Intensitas cukup tinggi
- Volume latihan memadai
- Melibatkan banyak otot
Leg day memang berat, tetapi bukan satu-satunya cara untuk “mengaktifkan hormon”.
Manfaat Leg Day yang Justru Lebih Penting
Alih-alih mengejar mitos testosteron, ada manfaat nyata leg day yang jauh lebih relevan:
1. Peningkatan Kekuatan Total Tubuh
Otot kaki yang kuat meningkatkan stabilitas dan performa di latihan lain.
2. Adaptasi Saraf dan Metabolik
Latihan kaki melatih sistem saraf pusat dan meningkatkan kapasitas kerja tubuh.
3. Efek Tidak Langsung pada Performa
Tubuh yang lebih kuat dan seimbang mendukung progres latihan jangka panjang—bukan karena testosteron semata, tetapi karena adaptasi menyeluruh.
Faktor yang Lebih Berpengaruh pada Testosteron Harian
Jika tujuan Anda adalah menjaga atau mengoptimalkan testosteron alami, faktor-faktor ini jauh lebih menentukan dibanding leg day saja:
- Kualitas tidur
- Asupan kalori dan lemak sehat
- Manajemen stres
- Konsistensi latihan
- Komposisi tubuh (lemak berlebih menurunkan testosteron)
Latihan kaki hanyalah satu bagian kecil dari keseluruhan ekosistem hormonal tubuh.
Kesimpulan: Mitos atau Fakta?
Leg day meningkatkan testosteron?
👉 Fakta, tapi hanya sementara dan tidak signifikan secara jangka panjang.
Leg day memang memicu respons hormonal, tetapi tidak secara ajaib meningkatkan testosteron basal. Manfaat utamanya terletak pada peningkatan kekuatan, massa otot, dan adaptasi tubuh secara keseluruhan.
Jadi, tetaplah melakukan leg day—bukan karena mengejar hormon testosteron, tetapi karena fondasi tubuh kuat dimulai dari kaki.
Baca Juga : 10 Rekomendasi Suplemen Creatine Terbaik 2025
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : medianews

