olahraga.online Di kota-kota besar, olahraga malam hari menjadi pilihan realistis bagi banyak orang. Kesibukan pekerjaan sejak pagi hingga sore membuat waktu luang baru tersedia setelah matahari terbenam. Gym pun ramai di malam hari, begitu juga jalur lari dan pusat kebugaran.
Secara umum, olahraga malam bukanlah hal terlarang. Aktivitas fisik kapan pun tetap membawa manfaat bagi kesehatan jantung, metabolisme, dan kebugaran tubuh. Namun, keluhan yang sering muncul adalah sulit tidur setelah berolahraga, meski tubuh terasa lelah. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan: mengapa tubuh yang sudah “capek” justru susah terlelap?
Tubuh Tidak Langsung Siap untuk Tidur
Secara fisiologis, olahraga merupakan aktivitas yang merangsang tubuh untuk “bangun”, bukan untuk beristirahat. Saat berolahraga, tubuh meningkatkan denyut jantung, tekanan darah, serta aliran darah ke otot. Proses ini membuat sistem saraf berada dalam mode aktif.
Menurut dr Anita Suryani, praktisi kebugaran dari EMC Healthcare, sulit tidur setelah olahraga adalah kondisi yang cukup umum. Tubuh memerlukan waktu untuk kembali ke kondisi rileks setelah menerima stimulasi fisik yang cukup intens.
Peran Hormon dalam Gangguan Tidur
Salah satu penyebab utama sulit tidur setelah olahraga malam adalah perubahan hormon. Aktivitas fisik memicu pelepasan hormon adrenalin dan kortisol. Kedua hormon ini berfungsi meningkatkan kewaspadaan dan energi agar tubuh mampu beraktivitas optimal.
Kortisol dikenal sebagai hormon stres yang secara alami tinggi di pagi hari dan menurun di malam hari. Ketika olahraga dilakukan terlalu dekat dengan waktu tidur, kadar kortisol bisa kembali meningkat, sehingga otak sulit masuk ke fase relaksasi yang dibutuhkan untuk tidur.
Suhu Tubuh Ikut Berpengaruh
Olahraga juga meningkatkan suhu inti tubuh. Secara alami, tubuh manusia akan menurunkan suhu inti menjelang tidur sebagai sinyal bahwa waktu istirahat telah tiba. Peningkatan suhu akibat olahraga malam membuat proses penurunan suhu ini tertunda.
Akibatnya, tubuh “bingung” membaca sinyal tidur. Meski mata terasa berat, sistem biologis belum sepenuhnya siap untuk masuk ke fase tidur dalam, sehingga seseorang lebih mudah terjaga atau bolak-balik terbangun.
Intensitas Olahraga Jadi Faktor Penentu
Tidak semua olahraga malam berdampak sama. Intensitas latihan sangat berperan dalam memengaruhi kualitas tidur. Latihan berat seperti angkat beban intens, HIIT, atau cardio kecepatan tinggi cenderung memicu stimulasi hormon dan sistem saraf lebih kuat.
Sebaliknya, olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang, seperti jalan santai, yoga, atau stretching, umumnya tidak terlalu mengganggu tidur. Bahkan, pada sebagian orang, aktivitas ringan justru membantu tubuh lebih rileks.
Perbedaan Respons Tiap Individu
Menariknya, tidak semua orang mengalami gangguan tidur setelah olahraga malam. Respons tubuh sangat dipengaruhi oleh kondisi individu, tingkat kebugaran, usia, serta kebiasaan tidur. Atlet atau orang yang sudah terbiasa latihan malam sering kali memiliki adaptasi fisiologis yang lebih baik.
Bagi pemula atau mereka yang jarang berolahraga, tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri. Inilah sebabnya keluhan susah tidur lebih sering muncul pada kelompok ini.
Waktu Ideal Olahraga Malam
Para ahli menyarankan agar olahraga malam dilakukan setidaknya dua hingga tiga jam sebelum waktu tidur. Jeda ini memberi kesempatan bagi tubuh untuk menurunkan denyut jantung, menstabilkan hormon, dan mengembalikan suhu tubuh ke kondisi normal.
Jika olahraga harus dilakukan lebih dekat dengan waktu tidur, sebaiknya pilih jenis latihan ringan dan hindari kompetisi atau target performa tinggi yang bisa memicu adrenalin berlebih.
Strategi Agar Tetap Bisa Tidur Nyenyak
Agar olahraga malam tidak mengganggu tidur, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan. Pendinginan atau cool down yang cukup setelah latihan membantu menurunkan aktivitas sistem saraf. Mandi air hangat juga dapat membantu proses relaksasi otot dan mempercepat rasa mengantuk.
Selain itu, hindari konsumsi kafein atau minuman berenergi sebelum dan sesudah olahraga malam. Perhatikan pula asupan makanan; makan terlalu berat setelah latihan bisa membuat sistem pencernaan bekerja keras dan mengganggu tidur.
Kualitas Tidur Sama Pentingnya dengan Olahraga
Olahraga dan tidur adalah dua pilar kesehatan yang saling berkaitan. Olahraga rutin membantu meningkatkan kualitas tidur dalam jangka panjang, sementara tidur cukup mempercepat pemulihan tubuh setelah aktivitas fisik.
Masalah muncul ketika waktu dan intensitas olahraga tidak disesuaikan dengan ritme biologis tubuh. Oleh karena itu, memahami sinyal tubuh menjadi kunci agar keduanya bisa berjalan seimbang.
Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter?
Jika gangguan tidur setelah olahraga malam terjadi terus-menerus dan memengaruhi aktivitas harian, konsultasi dengan tenaga medis atau dokter olahraga sangat disarankan. Bisa jadi terdapat faktor lain seperti gangguan tidur, stres kronis, atau masalah hormonal yang memperburuk kondisi tersebut.
Pendekatan individual sangat penting karena tidak ada satu solusi yang cocok untuk semua orang.
Kesimpulan: Olahraga Malam Boleh, Asal Tepat
Olahraga malam bukan musuh tidur, tetapi waktu dan caranya perlu disesuaikan. Peningkatan hormon stres, suhu tubuh, dan aktivitas sistem saraf menjadi alasan medis mengapa sebagian orang sulit tidur setelah latihan malam.
Dengan memilih intensitas yang tepat, memberi jeda sebelum tidur, serta menerapkan strategi relaksasi, olahraga malam tetap bisa dilakukan tanpa mengorbankan kualitas tidur. Kuncinya adalah mengenali respons tubuh sendiri dan menyeimbangkan antara kebutuhan bergerak dan kebutuhan beristirahat.

Cek Juga Artikel Dari Platform museros.site
